Info Lowongan Kerja :
Home » » Komisi A DPRD Sumut Desak Polsek Medan Labuhan Ungkap Kasus Penembakan Sekretaris Gerbraksu

Komisi A DPRD Sumut Desak Polsek Medan Labuhan Ungkap Kasus Penembakan Sekretaris Gerbraksu

Written By deteksi nusantara on Rabu, 01 April 2015 | Rabu, April 01, 2015


Medan,DeteksiNusantara.com -Polda Sumatera Utara khususnya Polsekta Medan Labuhan diminta segera mengungkap pelaku penembakan (menggunakan replika senjata api berpeluru mimis plastik) terhadap Muchtar Ammi, Sekretaris Gerakan Rakyat Berantas Korupsi (Gerbraksu) Sumut. Agar pihak kepolisian bekerja keras dan menjadi institusi yang terpercaya karena mampu memberikan rasa aman kepada masyarakat, Komisi A DPRD Sumut memberikan tenggat waktu paling lama 1,5 bulan untuk menyelesaikan kasus tersebut.

Demikian point pertama hasil kesimpulan Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Komisi A DPRD Sumut dengan Gerbraksu, pihak kepolisian yang diwakili oleh Kompol Roni Sitompul, selaku Kapolsek Medan Labuhan dan utusan Kepala Dinas Bina Marga Sumut, yang dibacakan oleh Tony Togatorop, MM selaku pimpinan rapat, pada Selasa siang, (31/3/2015).

Kesimpulan selanjutnya adalah bahwa DPRD Sumut akan menindaklanjuti dugaan korupsi yang terjadi di Dinas Bina Marga Sumut dengan mendesak penegak hukum untuk segera mengusut dugaan korupsi yang dilaporkan Gerbraksu sebagai pemicu terjadinya aksi penembakan tersebut.
Amatan wartawan harian Simantab, semua anggota dewan yang hadir sepakat mendesak polisi untuk segera mengungkap kasus penembakan yang terjadi pada 15 Februari 2015 pukul 01.00 WIB di halaman rumah Saharudin (Ketua Gerbraksu) di Perumahan Permata Hijau, Kecamatan Medan Labuhan tersebut.

Ada hal menarik diungkapkan Herman Sembiring, pada rapat resmi tersebut. Tanpa bermaksud menyindir pihak manapun, beliau menceritakan suatu kisah anekdot perihal pandangan seorang bocah yang religius terhadap sosok anggota polisi.

Dikisahkannya, suatu saat bocah ini sangat membutuhkan uang sebanyak 200 ribu, dan karena hanya kepada Allah lah tempatnya mengadu, dia kemudian menulis surat yang ditujukan pada Allah, dan entah bagaimana jalannya, surat yang ditujukannya ke alamat sang pencipta ini akhirnya berlabuh di kantor polisi. Mungkin karena tergugah akan besarnya iman bocah ini pada Allah, kepala polisi kemudian mengumpulkan anak buahnya dan mereka selanjutnya sepakat mengumpulkan uang untuk diberikan pada bocah tersebut. Namun uang yang terkumpul dalam waktu singkat tersebut hanya 175 ribu. Begitu pun, akhirnya salah seorang polisi mengantarkan uang itu ke bocah religius ini.

 “Bocah tersebut sangat bersyukur akan uang ‘kiriman dari Allah’ ini. Tak lama kemudian dia berdoa, “Ya Tuhan, lain kali kalau Engkau memberi pada hamba mu ini, jangan melalui polisi, uangnya disunat 25 ribu,” kata Herman disambut gelak tawa para peserta RDP yang hadir.

RDP ini diikuti oleh Januari Siregar (PKB), Burhanudin Siregar (PKS), Fajar Waruwu (Gerindra), Anhar A Monoel (Nasdem), Sutrisno Pangaribuan (PDIP), Herman Sembiring (PDIP) dan Sarma Hutajulu (PDIP), dan sejumlah warga masyarakat yang mengenakan seragam bercorak merah putih, bertuliskan LAKIP 45.

Terpisah, Ketua LSM Gelora Anak Negeri, Hendra Raja Munthe menanggapi bahwa pengungkapan kasus ini harus secepatnya dilakukan oleh pihak kepolisian, guna menepis isu miring di luar yang mengatakan bahwa kepolisian sengaja memperlambat penanganannya guna memberi ruang pada publik untuk memvonis Dinas Bina Marga Sumut terlibat dalam aksi ini.

“Penegak hukum harus segera melakukan penyelidikan maupun penyidikan terkait dugaan teror terhadap Muchtar ini, supaya jelas apakah pejabat Dinas Bina Marga terlibat atau tidak. Jangan dilama-lamakan supaya ada pihak yang tidak berkompeten memperoleh keuntungan dari status abu-abu ini,” kata Hendra. (Samuel S)